Musik

Bukan Pesugihan! Matoha Mino Bedah Sisi Lain Gunung Kawi

Musisi asal Malang ini merilis lagu baru untuk meluruskan stigma negatif yang menyelimuti Gunung Kawi

Mematahkan Stigma Mistis Lewat Karya Seni Musik

Selama puluhan tahun, nama Gunung Kawi selalu identik dengan hal-hal berbau klenik, mistis, hingga praktik pesugihan di benak masyarakat Indonesia. Namun, stereotip yang kadung mengakar ini coba dipatahkan oleh musisi senior asal Malang, Matoha Mino. Melalui single terbarunya yang bertajuk “Gunung Kawi“, seniman berusia 57 tahun ini membawa misi besar untuk mengubah sudut pandang publik terhadap tanah kelahirannya.

Matoha Mino mengakui bahwa keresahan ini telah ia pendam sejak tahun 2005. Sebagai putra daerah asli Desa Wonosari yang tumbuh besar di lereng Gunung Kawi, ia merasa jengah dengan narasi horor yang terus diproduksi oleh film dan sinetron. Baginya, Gunung Kawi memiliki esensi yang jauh lebih mulia daripada sekadar cerita tentang tuyul atau genderuwo yang selama ini dipelihara oleh stigma negatif masyarakat.

Gunung Kawi Sebagai Simbol Perjuangan dan Wisata Religi

Dalam lirik lagu tersebut, Matoha Mino menekankan bahwa Gunung Kawi sebenarnya adalah tempat ziarah yang sarat nilai sejarah. Lokasi ini merupakan tempat peristirahatan terakhir pahlawan bangsa, yakni Eyang Djoego dan Eyang Soejono, yang merupakan laskar Pangeran Diponegoro. Matoha ingin menegaskan bahwa Gunung Kawi adalah destinasi wisata ritual yang bersih, tempat orang-orang datang untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa sembari mengenang jasa para pejuang.

Eksplorasi nilai sejarah ini dirasa sangat penting agar nama Gunung Kawi tidak lagi disalahartikan sebagai tempat mencari kekayaan instan secara gaib. Lewat nada dan lirik, musisi yang juga pernah terlibat dalam proyek soundtrack film “KKN: Desa Penari” ini mengajak pendengar untuk kembali ke hakikat doa yang benar. Ia meyakini bahwa masih banyak potensi seni dan budaya dari Gunung Kawi yang perlu digaungkan lebih luas ke mancanegara.

Kolaborasi Musikal yang Harmonis dan Universal

Secara musikalitas, lagu “Gunung Kawi” menyajikan perpaduan unik antara gamelan Jawa dengan unsur musik Islami seperti terbangan atau sholawatan. Dalam proses produksinya, Matoha Mino tidak bekerja sendiri. Ia menggandeng grup musik “Kyai Zakaria” serta melibatkan keluarganya, termasuk musisi Hanafi Madu W dan penyanyi Madukina. Keterlibatan keluarga ini memperkuat emosi dan keaslian pesan yang ingin disampaikan dalam lagu Gunung Kawi tersebut.

Berbeda dengan karya sebelumnya yang menggunakan bahasa Jawa kuno, lagu Gunung Kawi sengaja ditulis dalam bahasa Indonesia yang lugas. Langkah ini diambil agar pesan untuk meluruskan stigma Gunung Kawi dapat menjangkau audiens yang lebih universal dan masif. Dengan melodi yang sederhana namun mendalam, lagu yang dirilis pada 31 Desember 2025 ini diharapkan mampu menjadi pemantik perubahan cara pandang masyarakat terhadap keindahan sejati Gunung Kawi.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button