Jakarta, 26 November 2025 , Banda Neira kembali menegaskan posisi mereka sebagai duo musik yang peka terhadap kisah keseharian manusia lewat peluncuran video musik “Mimpilah Seliar-liarnya”. Karya ini menjadi penanda perjalanan satu tahun album Tumbuh dan Menjadi, sekaligus menuturkan ulang pergulatan kelas pekerja yang hidup di antara kerasnya rutinitas kota.
Lagu “Mimpilah Seliar-liarnya” lahir dari pengalaman personal Ananda Badudu yang setiap hari harus menempuh perjalanan Jakarta–Cikarang sepanjang 100 kilometer. Kelelahan yang menumpuk menjadi titik awal terciptanya lagu ini sebuah pengakuan jujur tentang tubuh yang menyerah pada malam dan pikiran yang bergulat dengan realita hidup. Dari situ, Banda Neira menyusun narasi bahwa mimpi adalah ruang kecil yang tetap harus dijaga di tengah keterbatasan.
Video musik “Mimpilah Seliar-liarnya” digarap oleh sutradara Bernardus Raka yang diberi kebebasan penuh untuk menafsirkan makna lagunya. Raka menampilkan dunia mimpi yang retak, jauh dari gambaran pelarian yang indah. Visualnya merefleksikan kehidupan para pekerja yang hampir tak memiliki ruang untuk bermimpi, kecuali sesaat sebelum terlelap. Para pemeran seperti Meidina, Kun Baehaqi Almas, Kanaya Nadine Aleesa, dan Edwin Jesse Nicholas menghadirkan performa emosional yang menghidupkan narasi tersebut.
Setahun perjalanan album Tumbuh dan Menjadi menjadi fase penting bagi kedua personel. Ananda dan Sasha sama-sama melihat karya ini sebagai proses memperbaiki diri, menebus masa lalu, dan kembali menemukan arah. Sasha menyebut proyek ini sebagai ruang-pulang, tempat ia kembali mengingat jati dirinya dalam musik setelah sempat berhenti dari industri.
Peluncuran “Mimpilah Seliar-liarnya” juga menandai babak baru kolaborasi antara label Berjalan Lebih Jauh Records dan KithLabo. Bersamaan dengan perilisan video musiknya, Banda Neira membuka akses untuk mendengarkan seluruh album Tumbuh dan Menjadi di berbagai platform digital, sementara versi visual lagu ini dapat disaksikan di YouTube mulai 26 November 2025.
Dengan cerita yang dekat, visual yang jujur, dan makna yang meneguhkan harapan, “Mimpilah Seliar-liarnya” menjadi pengingat bahwa di balik lelahnya hidup, mimpi tetap perlu dipertahankan sebagai ruang yang menyelamatkan.



