“Ekspresikan diri kalian. Jangan malu jadi diri sendiri. Pemerintah mulai mendukung. Mari tunjukkan karya, bukan balasan kasar. Komunitas ini besar dan kreatif, ayo kita buktikan itu.”
Eksklusif: Kisah Hobi, Filosofi Hidup, dan Visinya untuk Komunitas Jejepangan Jakarta
Di tengah suasana formal DPRD DKI Jakarta, ruang kerja Hardiyanto Kenneth atau Bang Ken langsung mencuri perhatian. Etalase kacanya dipenuhi Batman, Tanjiro, Funko Pop!, box Thousand Sunny, hingga Kamen Rider Black Sun. Koleksi itu bukan dekorasi semata, melainkan jejak perjalanan hobinya sejak kecil, jejak seorang otaku yang kini berprofesi sebagai anggota dewan.
Sebagai Ketua Umum Djakarta Ennichi, festival budaya Jepang yang tengah berkembang pesat, Bang Ken tampil apa adanya. Ia tidak malu mengakui dirinya penggemar anime, superhero, dan berbagai tokoh kultus pop culture lainnya.
Awal Mula Hobi: Dari Tamiya ke Koleksi Figur
Perjalanannya dimulai dari masa kecil ketika ia gemar bermain tamiya Dash! Yonkuro. Koleksi figur Dragon Ball seperti Goku kecil, Krilin, dan Vegeta menjadi set pertama yang ia miliki. Ia sempat mencoba merakit Gunpla, tetapi karena kesibukan kerja menuntut waktu dan fokus tinggi, ia beralih pada koleksi figur jadi.
Baginya, figur adalah bentuk terapi. Melihat koleksi itu memberi energi baru setelah melalui rutinitas pekerjaan yang padat. Akhir pekan sering ia manfaatkan untuk berburu item baru bersama keluarga di berbagai toko hobi seperti Multi Toys. Ia memilih figur dengan selektif. Tidak vulgar, bukan komedi, melainkan karakter dengan jiwa heroik dan kekuatan simbolis.
Anime Favorit dan Nilai Hidup
Bang Ken tumbuh bersama anime klasik seperti Saint Seiya dan Samurai X yang menurutnya mengandung nilai kesetiaan, perjuangan, dan konflik manusiawi. Dragon Shiryu menjadi karakter favoritnya karena kesetiaan dan pengorbanannya yang mendalam.
Anime modern seperti Demon Slayer memberi pengaruh besar dalam hidupnya. Ia menilai cerita dan latar belakang karakternya sangat menyentuh sisi kemanusiaan. Ia mengagumi semangat Rengoku Kyojuro yang kemudian ia bawa sebagai etos kerja dalam menjalankan tugas publik.
Dalam dunia One Piece, ia merasa dekat dengan Roronoa Zoro. Nilai Bushido, loyalitas terhadap nakama, serta sifat penyendiri namun tegas membuatnya merasa karakter itu mencerminkan dirinya.
Batman, Guan Yu, dan Tokoh-Tokoh Pahlawan Lain
Selain anime, Bang Ken juga menggemari tokoh barat seperti Batman. Ia melihat tokoh tersebut sebagai simbol seseorang yang bangkit dari trauma tanpa terjebak dendam. Filosofi itu dianggap relevan dengan dunia pelayanan publik yang sering kali menuntut kerja dalam sunyi dan risiko disalahpahami.
Ia juga mengagumi tokoh Guan Yu dari kisah Samkok yang dikenal setia dan tegas. Kecintaannya pada budaya Nusantara terlihat dari wayang golek Gatot Kaca, Kresna, dan Bima yang dipajang di ruang kerjanya. Menurutnya, tokoh-tokoh itu menyimpan pesan moral yang kuat dan abadi.
Djakarta Ennichi: Ruang untuk Komunitas Jejepangan
Keputusan Bang Ken memimpin Djakarta Ennichi berawal dari permintaan sahabatnya, Zhuge Kamiya. Ia melihat perlunya dukungan pemerintah agar komunitas jejepangan memiliki ruang yang positif, terjangkau, dan inklusif untuk berkembang.
Ia aktif berdiskusi dengan otaku, wibu, gamer, hingga cosplayer demi memahami tantangan mereka. Menurutnya, pemerintah harus hadir sebagai jembatan agar kegiatan kreatif tidak membebani generasi muda secara finansial dan tidak membuat mereka kehilangan media ekspresi.
Bang Ken menyadari bahwa penampilan dengan atribut anime bisa memancing komentar miring. Namun ia memilih untuk tidak memedulikannya. Sikap otentik membuatnya lebih dekat dengan generasi milenial dan Gen Z, sekaligus memudahkan proses penyerapan aspirasi.
Tentang Cosplay dan Pengalaman Unik
Bang Ken mengaku ingin mencoba cosplay sebagai Rengoku atau Guan Yu. Ia juga tertarik dengan karakter Deadpool karena kompleksitas sifat manusianya yang dinamis.
Dalam salah satu pengalaman, ia pernah dikejutkan oleh seorang cosplayer perempuan yang masuk ke toilet pria. Setelah ditegur, ternyata suara cosplayer itu adalah suara laki-laki. Bagi Bang Ken, kejadian itu menunjukkan totalitas para cosplayer dan menjadi bukti bahwa dunia cosplay adalah seni peran yang serius dan patut dihargai.
Pesan Penutup untuk Komunitas
Menutup wawancara, Bang Ken menyampaikan pesan persatuan bagi seluruh penggemar anime, manga, dan game di Indonesia. Ia mengajak agar tidak ada lagi perdebatan yang memecah belah komunitas. Menurutnya, komunitas ini bukan kelompok minoritas tetapi kekuatan kreatif besar yang kini mulai mendapat ruang dan dukungan.
Dengan gayanya yang tegas, jujur, dan tetap apa adanya, Bang Kenneth membuktikan bahwa pejabat publik tetap bisa merangkul identitasnya sebagai otaku. Di tengah dunia politik yang cenderung kaku, ia memilih menjadi dirinya sendiri dan dari sanalah jembatan dengan generasi muda mulai terbentuk.



