BeritaLiputan Event

INTERSECTION: Titik Temu Seni Media Baru dan Tradisi

Menilik kolaborasi kurator dan akademisi dalam pameran INTERSECTION sebagai jembatan ekosistem kreatif

Sinergi Kurator dan Akademisi di Balik INTERSECTION

Malang, 18 Januari 2026 – Kota Malang kembali mengukuhkan eksistensinya sebagai hub kreatif yang dinamis melalui perhelatan pameran bertajuk INTERSECTION. Acara ini bukan sekadar pameran estetika biasa, melainkan sebuah ruang temu yang krusial antara kedalaman gagasan kuratorial dan jembatan riset akademik ke ranah publik. INTERSECTION hadir sebagai jawaban atas kebutuhan ruang pamer yang tidak hanya memajang visual, tetapi juga menjaga substansi pemikiran di balik setiap karya seni yang ditampilkan.

Keberhasilan pameran INTERSECTION tidak lepas dari peran dua sosok sentral, yakni Didit Prasetyo dan Adita Ayu Kusumasari. Keduanya membawa latar belakang yang berbeda namun bertemu pada visi yang sama: menghidupkan seni media baru yang tetap berakar pada riset dan relevansi sosial. Melalui INTERSECTION, mereka membuktikan bahwa kolaborasi lintas disiplin adalah kunci dalam menghadapi tantangan industri kreatif masa kini yang semakin kompleks.

Mengutamakan Gagasan Sebelum Ruang Eksibisi

Didit Prast

Bagi Didit Prasetyo, seorang kurator dan pengajar yang berpengalaman, pameran INTERSECTION adalah perwujudan dari pentingnya mematangkan konsep sejak awal. Ia menekankan bahwa gagasan harus menjadi fondasi utama sebelum seorang seniman memikirkan lokasi atau visual audiens. Dalam konteks INTERSECTION, Didit berperan memastikan bahwa setiap karya memiliki narasi yang kuat, terutama ketika mahasiswa atau seniman mengangkat tema tradisi yang sering kali hanya disentuh di permukaan.

Pengalaman Didit dalam membimbing talenta muda memberikan warna tersendiri bagi INTERSECTION. Ia melihat bahwa kedewasaan berpikir dalam berproses jauh lebih berharga daripada sekadar hasil akhir teknis. Melalui disiplin konseptual yang ia terapkan di INTERSECTION, setiap karya interaktif yang dipajang mampu menyampaikan pesan yang lebih dalam kepada pengunjung, tidak hanya sekadar menjadi objek foto di media sosial.

Dari Tugas Akhir Menuju Ruang Publik Lewat INTERSECTION

Adita Gangcallslow

Di sisi lain, Adita Ayu Kusumasari selaku Ketua Program Studi DKV UBHINUS, melihat INTERSECTION sebagai laboratorium nyata bagi para mahasiswanya. Keterlibatan kelompok mahasiswa Gangcallslow dalam INTERSECTION merupakan hasil dari bimbingan tugas akhir yang sejalan dengan riset disertasi Adita mengenai seni media dan tradisi. Dengan membawa karya kampus ke INTERSECTION, mahasiswa dipaksa untuk berhadapan langsung dengan respon publik yang sebenarnya.

Pameran INTERSECTION berhasil menghapus dikotomi kaku antara galeri seni yang eksklusif dengan ruang publik yang inklusif. Pemilihan Astaloka Coffee sebagai lokasi INTERSECTION merupakan langkah strategis untuk mendekatkan seni media baru dengan keseharian anak muda di Malang. Di INTERSECTION, seni tidak lagi terasa jauh, melainkan menjadi bagian dari budaya “nongkrong” yang mampu mengedukasi audiens secara organik dan menyenangkan.

INTERSECTION: Oase Seni Media Baru di Ruang Alternatif

Intersection Poster

Perhelatan INTERSECTION yang berlangsung pada 16–18 Januari 2026 lalu menyuguhkan rangkaian program yang sangat variatif. Selain pameran seni, INTERSECTION juga dimeriahkan oleh live audio-visual performance dari Matches hingga peluncuran photobox kolaboratif. Keunikan INTERSECTION terletak pada sifat karyanya yang interaktif, di mana pengunjung tidak hanya menonton, tetapi juga bisa berinteraksi dan memainkan karya seni yang tersedia di area pameran.

Kehadiran komunitas seperti Pixelab, Yarn Lunchbox, hingga Trolley Witch di pameran INTERSECTION menambah kekayaan ekosistem yang dibangun. Hal ini mempertegas posisi INTERSECTION sebagai titik temu berbagai simpul kreatif di Malang. Lebih dari sekadar pameran lokal, INTERSECTION juga berfungsi sebagai roadshow pembuka menuju perhelatan besar Swarnaloka 2026 yang telah dinanti-nantikan oleh para pecinta seni di seluruh Indonesia.

Pada akhirnya, INTERSECTION adalah bukti bahwa ketika akademisi, kurator, dan ruang publik bersinergi, seni media baru dapat tumbuh menjadi lebih bermakna. INTERSECTION mengajak kita semua untuk melihat proses penemuan jati diri melalui seni sebagai sebuah perjalanan yang terus mengalir. Dengan kesuksesan yang diraih tahun ini, INTERSECTION diharapkan dapat terus menjadi agenda rutin yang memacu regenerasi praktisi seni media baru yang cerdas dan berwawasan luas.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button