BeritaMusik

Atsmosphere Angkat Suara Kaum Minoritas Lewat Oposisi

Album kedua band asal Bogor ini memadukan blues dan rock n roll dengan kritik sosial serta politik

Band asal Cibinong, Bogor, Atsmosphere, kembali menunjukkan identitas musikal mereka melalui album kedua bertajuk “Oposisi”. Mengusung perpaduan blues dan rock n roll, album ini menjadi wadah bagi berbagai keresahan sosial, politik, dan kehidupan yang dekat dengan pengalaman masyarakat sehari-hari.

Atsmosphere lahir dari kebiasaan berkumpul di ruang kreatif bernama Train Space. Dari tongkrongan sederhana yang dipenuhi musik, diskusi, dan ekspresi bebas, para personel mulai mengembangkan karya yang kemudian membentuk identitas band hingga melahirkan album terbaru ini.

Kritik Sosial dan Politik dalam Balutan Blues Rock

Melalui “Oposisi”, Atsmosphere mengangkat berbagai isu politik lokal maupun global yang dipadukan dengan karakter blues rock yang menjadi ciri khas mereka. Album ini mencoba menyuarakan kegelisahan kelompok minoritas yang sering kali memiliki ruang terbatas untuk menyampaikan pandangan mereka.

Menurut Atsmosphere, musik dapat menjadi medium untuk menyuarakan aspirasi dan mempertahankan kebebasan berekspresi. Pesan tersebut menjadi fondasi utama yang membentuk keseluruhan narasi album.

Menjadi Ruang bagi Kebebasan Berekspresi

Album “Oposisi” berisi delapan lagu, yaitu “Oposisi”, “Virtualis”, “Freedom Is Heaven”, “Inflasi”, “Mei Day”, “Freedom Rools”, “Jangan Berharap”, “Dibungkam”, dan “Peace in The Land”. Setiap lagu menghadirkan perspektif yang berbeda terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi di sekitar masyarakat.

Bagi Atsmosphere, kebebasan berbicara dan berekspresi merupakan hal penting yang harus terus dijaga. Karena itu, album ini tidak hanya menjadi karya musik, tetapi juga refleksi atas kondisi sosial yang mereka amati dalam kehidupan sehari-hari.

Perjalanan Musik dari Train Space

Atsmosphere beranggotakan Yaman (vokal), Iqbal atau Belzz (gitar), Dirgam (bass), dan Adrian (drum). Bersama manajer mereka, Syaras Q, band ini terus membangun komunitas kreatif yang berkembang dari lingkungan Train Space di Bogor.

See also  Bilal Indrajaya & Maudy Ayunda Hidupkan Kembali “Kau”

Melalui “Oposisi”, Atsmosphere berharap musik dapat menjadi ruang diskusi yang terbuka sekaligus media untuk menyuarakan berbagai persoalan yang sering kali terabaikan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button