Swara Prambanan 2025: Pesona Magis di Balik Syahdunya Malam Tanpa Kembang Api
YOGYAKARTA, 1 Desember 2025 – Gelaran festival musik dan budaya Swara Prambanan 2025 sukses menutup tahun dengan cara yang tidak biasa. Bertempat di pelataran megah Candi Prambanan, Rabu (31/12/2025), acara ini membuktikan bahwa kemeriahan pergantian tahun tidak selalu identik dengan dentuman kembang api, melainkan bisa dirayakan dengan kehangatan dan rasa empati.
Harmoni Senja dan Nostalgia Musisi Lintas Generasi
Mengusung tema “Menikmati Akhir Senja 2025”, festival ini dibuka dengan penampilan syahdu dari Bilal Indrajaya. Suasana pelataran candi yang mulai diterpa cahaya jingga menjadi latar sempurna bagi lagu-lagu pop-alternatifnya. Memasuki malam hari, energi penonton semakin membuncah saat band legendaris Padi Reborn naik ke atas panggung. Ribuan penonton serentak menyanyikan lagu-lagu hits seperti “Begitu Indah” dan “Kasih Tak Sampai”, menciptakan momen nostalgia masal yang mengharukan.
Puncak keceriaan malam itu diwakili oleh penampilan Denny Caknan yang berhasil membuat seluruh area “ambyar” namun tertib, diikuti oleh energi emosional dari For Revenge dan irama joget inklusif dari Mr. Jono & Joni.
Komitmen Kemanusiaan: Cahaya Mapping Gantikan Kembang Api
Satu hal yang paling mencolok dari perayaan tahun ini adalah absennya pesta kembang api. InJourney Destination Management (IDM) bersama GOLDLive Indonesia dan Antara Suara selaku penyelenggara secara resmi meniadakan kembang api sebagai bentuk solidaritas atas musibah bencana alam yang melanda wilayah Sumatra baru-baru ini.
Sebagai gantinya, tepat pada detik-detik pergantian tahun, pengunjung disuguhi pertunjukan Visual Mapping yang spektakuler. Permukaan candi disinari proyeksi cahaya laser artistik yang menceritakan perjalanan budaya nusantara. Keputusan ini mendapatkan apresiasi luas dari pengunjung yang merasa suasana menjadi lebih sakral dan reflektif.
Lebih dari Sekadar Konser Musik
Swara Prambanan 2025 tetap mempertahankan kekuatannya sebagai ajang pelestarian budaya. Di area Pasar Medang, pengunjung tidak hanya menikmati kuliner lokal Yogyakarta, tetapi juga berinteraksi dengan seniman tradisional melalui workshop seni dan pertunjukan Tari Roro Jonggrang yang memukau.
Pihak penyelenggara menyatakan bahwa kesuksesan event ini bukan hanya diukur dari jumlah tiket yang terjual, tetapi dari keberhasilan membangun koneksi antara musik modern, warisan sejarah, dan kepedulian sosial.
Sumber berita : Katadata, RRI, Visiting Jogja, Portal Jogja, Intens Plus, Injourney



