Penyanyi dan penulis lagu berbakat asal Bali, Assia Keva, kembali menghadirkan kejutan bagi para pendengarnya melalui rilisan terbaru. Setelah meluncurkan album mini Forevermore pada Oktober tahun lalu, kini ia mengemas ulang karya tersebut dalam format yang lebih intim dan minimalis.
Rilisan spesial bertajuk forevermore, but it’s just me and piano ini resmi diperkenalkan pada Februari 2026. Dalam EP ini, Assia Keva memilih tiga lagu andalannya, yakni “Baby July”, “Can We Be Friends Again?”, dan “Looking for Love in Wrong Places” untuk dibawakan dalam versi stripped.
Pendekatan Akustik dan Akar Musikalitas Assia Keva
Proses rekaman dilakukan secara live di DeBeat Music Studio, Bali, dengan iringan dentuman piano dari Kevin Suwandhi. Melalui format ini, Assia Keva ingin menonjolkan kekuatan vokal dan emosi lirik tanpa gangguan aransemen yang kompleks.
Bagi Assia Keva, kembali ke format akustik adalah sebuah pilihan personal yang sangat mendalam. Ia mengaku tumbuh besar dengan kebiasaan bernyanyi secara akustik, sehingga proyek ini menjadi cara baginya untuk kembali ke akar musikal yang paling ia cintai.
Ruang Emosional bagi Pendengar
Penyederhanaan aransemen dalam EP ini bertujuan memberikan ruang bagi pendengar untuk lebih meresapi melodi dan pesan di setiap lagu. Assia Keva berharap versi piano ini membuat lagu-lagunya terasa lebih ringan namun lebih mudah terhubung secara emosional dengan audiens.
Format video dari sesi live ini sudah dapat disaksikan melalui kanal YouTube resmi miliknya. Sementara itu, versi audionya telah tersedia di berbagai layanan musik digital untuk menemani momen reflektif para pencinta musik di seluruh Indonesia.
Kehadiran EP forevermore, but it’s just me and piano membuktikan fleksibilitas Assia Keva dalam menyampaikan rasa melalui musik. Dengan karakter vokal yang kuat, ia berhasil mengubah lagu-lagu enerjiknya menjadi balada yang menyentuh hati dan penuh kejujuran artistik.




