Setelah sukses menempuh perjalanan emosional lewat album sebelumnya, unit musik Pendarra kini kembali dengan karya terbaru yang lebih kontemplatif. Bertajuk “Semburat”, maxi single ini hadir sebagai ruang hening yang menangkap transisi antara terang dan gelap.
Berbeda dengan album Ode Matahari yang penuh perjuangan, melalui “Semburat”, Pendarra memilih untuk duduk sejenak dan merasakan fase penerimaan. Karya ini tidak hadir untuk merayakan kemenangan besar, melainkan untuk mengakui ketenangan yang tumbuh secara perlahan.
Sentuhan Petra Sihombing dalam Semburat
Dalam proses kreatifnya, Pendarra menggandeng musisi berbakat Petra Sihombing sebagai produser. Kolaborasi ini mengarahkan “Semburat” menuju lanskap sonik yang lebih subtil, intim, dan memberikan ruang bagi setiap nada untuk “bernapas” tanpa kesan terburu-buru.
Pendekatan ini memperkuat karakter reflektif yang menjadi ruh utama rilisan ini. Pendarra memilih untuk meredam volume emosi, menciptakan suasana yang lebih teduh seolah memberi keleluasaan bagi para pendengar untuk ikut menyelami perasaan di dalamnya.
Kolaborasi Lintas Musisi: Reda Gaudiamo hingga Nosstress
Maxi single ini merangkum tiga lagu yang saling bersambung, yakni “Tentang Mimpi Berupa Pelangi”, “Jemari Bunga”, dan “Sepenuh Hati”. Pendarra turut melibatkan nama-nama besar seperti Reda Gaudiamo, Jerash Malibu, hingga grup folk asal Bali, Nosstress.
Inspirasi “Semburat” lahir dari fragmen kecil kehidupan, mulai dari percakapan yang tertunda hingga kehilangan yang tak sempat terucap. Pendarra menyusun ulang pengalaman tersebut menjadi sebuah harmoni yang menawarkan rasa lega bagi siapa pun yang mendengarkannya.
Junet, salah satu personel Pendarra, mengungkapkan bahwa mereka ingin pendengar merasakan keleluasaan, bukan sekadar euforia sesaat. Baginya, cahaya paling murni sering muncul justru ketika hari belum sepenuhnya terang benderang.
Kini, “Semburat” sudah tersedia di seluruh platform musik digital. Kehadiran maxi single ini menjadi bukti kedewasaan Pendarra dalam berkarya, menunjukkan bahwa mereka tidak lagi tergesa-gesa dalam mendaki, melainkan menikmati setiap pemandangan di puncak perjalanan mereka.



