Jakarta, 8 Mei 2026 – Unit pop-rock asal Jakarta Timur, Manerole, resmi merilis single teranyar mereka yang bertajuk “Sihir”. Karya ini bukan sekadar rilisan biasa, melainkan sebuah penanda penting sekaligus jembatan menuju album penuh mereka yang dijadwalkan meluncur pada pertengahan tahun ini. Melalui lagu ini, Manerole mulai memperkenalkan konsep “dunia sihir” yang akan menjadi benang merah estetika album mendatang.
“Sihir” hadir dengan nuansa pop romantis yang flowery, memotret fenomena cinta yang canggung, malu, dan penuh rasa grogi. Liriknya mengisahkan seseorang yang begitu terpesona hingga lidahnya kelu untuk menyatakan perasaan secara langsung. Alih-alih berkata terus terang, kekaguman tersebut digambarkan layaknya terkena mantra ajaib yang melumpuhkan keberanian, namun memberikan getaran indah di dalam hati.
Eksplorasi Musikal di Balik Kesederhanaan
Secara musikal, lagu ini terasa ringan dengan groove medium upbeat yang manis dan sedikit “centil”. Namun, di balik pembawaannya yang easy listening, “Sihir” menyimpan komposisi yang cukup kompleks. Manerole memasukkan unsur line cliche, sinkopasi, hingga modulasi yang tidak lazim pada bagian chorus, menjadikannya salah satu karya paling eksperimental dalam katalog musik mereka sejauh ini.
Puncak emosional lagu ini tertuang dalam narasi penyerahan perasaan pada sebuah “mantra” agar pesan cinta tetap sampai meskipun kata-kata sulit terucap. Lirik puitis seperti “Ku serahkan ini semua pada sebuah mantra yang membuka lembar cinta” menjadi klimaks yang memperkuat tema magis yang diusung oleh kuintet ini.
Gerbang Menuju Dunia Baru
Proses produksi “Sihir” melibatkan kolaborasi solid di dapur rekaman, mulai dari vokal yang direkam di Hush Studio hingga departemen drum di San Camp Studio. Dengan sentuhan mastering dari Levind Sutanto, lagu ini kini telah tersedia di seluruh platform streaming digital sebagai penutup rangkaian single sebelumnya.
Melalui “Sihir”, Manerole yang beranggotakan Matthilmy, Rifqithor, Maulana, Wisang, Yusuf, dan Fahmi sukses menghadirkan gambaran awal dari visi artistik mereka—mengolah realitas cinta yang sederhana menjadi sesuatu yang surealis dan magis.



